![]() |
| Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo memaparkan dinamika geopolitik global dalam penguatan pendekatan pemolisian berbasis ilmu pengetahuan di Akademi Kepolisian, Semarang, Jawa Tengah, 29 Maret 2026. Polri tengah membangun Laboratorium Sosial Sains sebagai sarana menguji model pemolisian yang adaptif, presisi, dan berbasis realitas lapangan.(Foto istimewa) |
Semarang, Brantas.News — Upaya transformasi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menuju institusi modern berbasis ilmu pengetahuan kian nyata. Salah satu langkah strategis terbaru ditandai dengan pembangunan Laboratorium Sosial Sains Kepolisian di lingkungan Akademi Kepolisian (Akpol), Lemdiklat Polri, Semarang, Jawa Tengah.
Fasilitas ini tidak sekadar menjadi ruang pembelajaran, melainkan dirancang sebagai pusat pengembangan pendekatan kepolisian yang lebih adaptif terhadap perubahan sosial. Di dalamnya, personel Polri akan ditempa untuk memperkuat pola pikir, budaya kerja, hingga cara bertindak dalam merespons tantangan tugas yang semakin kompleks.
Wakil Kepala Polri, Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, menekankan bahwa dinamika global—mulai dari percepatan digitalisasi hingga perubahan geopolitik—menuntut institusi kepolisian untuk bergerak lebih responsif dan presisi.
Menurutnya, pendekatan kepolisian ke depan tidak cukup hanya bertumpu pada teori, tetapi harus diuji langsung melalui kondisi nyata di masyarakat. “Polri dituntut mampu merumuskan strategi yang berbasis pada realitas sosial, bukan semata pendekatan konseptual,” ujarnya.
Laboratorium ini akan berfungsi sebagai ruang integratif yang menggabungkan riset ilmiah, pemanfaatan data, serta simulasi kondisi faktual di lapangan. Melalui mekanisme tersebut, berbagai model pemolisian akan diuji untuk menghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Pendekatan ini sekaligus memperkuat konsep pemolisian berbasis bukti (evidence-based policing), yang mengedepankan analisis data dan prediksi dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (harkamtibmas). Dengan demikian, setiap langkah yang diambil diharapkan lebih terukur, adaptif, dan humanis.
Lebih dari sekadar fasilitas riset, laboratorium ini juga diproyeksikan sebagai ruang pembentukan karakter personel Polri. Fokusnya tidak hanya pada peningkatan kompetensi teknis, tetapi juga pada penguatan integritas dan orientasi pelayanan publik.
Dalam kerangka yang lebih luas, Polri juga memperluas kolaborasi dengan dunia akademik melalui pengembangan jaringan Pusat Studi Kepolisian di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Hingga kini, tercatat 47 perjanjian kerja sama telah terjalin, dengan 30 pusat studi yang siap beroperasi.
Ke depan, pusat-pusat studi tersebut akan menjadi forum diskusi strategis melalui kegiatan Forum Group Discussion (FGD). Sejumlah isu krusial akan dibahas, mulai dari keamanan nasional, transformasi layanan publik, hingga ancaman kejahatan siber dan penguatan keamanan berbasis masyarakat.
Dari forum tersebut, diharapkan lahir rekomendasi kebijakan yang mampu menjawab tantangan aktual sekaligus memperkuat kualitas pelayanan Polri kepada masyarakat.
Melalui penguatan riset dan kolaborasi lintas sektor yang menjangkau seluruh wilayah Indonesia, Polri menegaskan komitmennya untuk terus berbenah. Transformasi yang dijalankan tidak hanya menyentuh aspek struktural, tetapi juga menyasar perubahan mendasar pada cara berpikir dan budaya kerja institusi.
Dengan hadirnya Laboratorium Sosial Sains Kepolisian, Polri menempatkan ilmu pengetahuan sebagai fondasi utama dalam membangun praktik kepolisian yang lebih profesional, transparan, dan akuntabel—sejalan dengan tuntutan masyarakat di era modern.
Red//Chia
