Operasi Senyap di Bali! Buronan Internasional Kelas Kakap Tak Berkutik di Bandara”

Advertisement

Masukkan script iklan 970x90px

Operasi Senyap di Bali! Buronan Internasional Kelas Kakap Tak Berkutik di Bandara”

April 01, 2026

Buronan Interpol ditangkap senyap setibanya di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali—pelarian berakhir seketika(foto istimewa)

Denpasar, Brantas.News — Indonesia kembali menunjukkan taringnya dalam perang melawan kejahatan global. Seorang buronan kelas kakap Interpol asal Inggris, Steven Lyons (45), berhasil dibekuk aparat gabungan sesaat setelah menginjakkan kaki di Bali.

Penangkapan berlangsung cepat dan senyap di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Sabtu (28/3/2026) pukul 11.58 Wita. Tanpa ruang gerak, Lyons langsung diamankan oleh tim gabungan Divhubinter Polri, Polda Bali, dan Imigrasi—mengakhiri pelariannya dari kejaran hukum internasional.

Nama Lyons bukan sosok sembarangan. Ia tercatat dalam Red Notice Interpol nomor A-4908/3-2026, dan disebut sebagai otak di balik jaringan kejahatan terorganisasi lintas negara “Lyons Crime Family” yang berbasis di Skotlandia.

Jaringan ini diduga kuat menjadi pemain utama dalam pusaran gelap pencucian uang dan distribusi narkotika dari Spanyol menuju Inggris Raya—jalur yang selama ini menjadi salah satu urat nadi peredaran narkoba di Eropa.

Penangkapan Lyons merupakan bagian dari operasi internasional besar bertajuk Operasi Armourum, yang melibatkan otoritas lintas negara, termasuk Guardia Civil dan Police Scotland.

Sehari sebelum Lyons diringkus di Bali, aparat di Eropa lebih dulu menggulung jaringan ini. Sebanyak 45 orang ditangkap dalam operasi serentak—33 di Skotlandia dan 12 di Spanyol—mengindikasikan skala operasi kriminal yang masif dan terstruktur.

Sekretaris NCB-Interpol Indonesia, Untung Widiyatmoko, menegaskan bahwa keberhasilan ini bukan kebetulan, melainkan hasil respons cepat atas intelijen internasional.

“Informasi dari NCB Abu Dhabi langsung kami tindak lanjuti. Begitu terdeteksi menuju Indonesia, tim langsung bergerak melakukan pencegatan,” tegasnya.

Lyons diduga mencoba menjadikan Indonesia—khususnya Bali—sebagai titik aman pelarian. Namun upaya itu gagal total. Aparat bergerak lebih cepat, memutus langkahnya sebelum sempat bersembunyi.

“Ini pesan tegas: Indonesia bukan tempat aman bagi buronan internasional,” ujar Untung.

Kini, proses deportasi tengah dipercepat. Dua perwira dari Guardia Civil bahkan telah tiba di Bali untuk mengawal pemulangan Lyons ke Eropa, tempat ia akan menghadapi jerat hukum atas dugaan kejahatan berat yang menjeratnya.

Penangkapan ini sekaligus menjadi sinyal keras bahwa Indonesia tidak lagi sekadar menjadi tujuan wisata dunia, tetapi juga garis depan dalam memburu dan menghentikan kejahatan lintas negara.

Red//Chia